EBOOK SAATNYA DUNIA BERUBAH

adminComment(0)

Saatnya dunia berubah: tangan Tuhan di balik by Siti Fadilah Supari. Saatnya dunia berubah: tangan by Siti Fadilah Supari. eBook: Document. English. Indonesia's move to secure an affordable vaccine supply for its population in understandable . the country has made a controversial decision. Teman2, ada yang punya ebook bukunya menteri Siti fadilah Supari yang berjudul, "Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung". bagi.


Ebook Saatnya Dunia Berubah

Author:ALONA ESCHBORN
Language:English, Arabic, Dutch
Country:Mali
Genre:Politics & Laws
Pages:679
Published (Last):13.10.2015
ISBN:888-8-41045-514-6
ePub File Size:20.43 MB
PDF File Size:17.66 MB
Distribution:Free* [*Registration needed]
Downloads:33394
Uploaded by: SHANIQUA

1st republican debate youtube · Saatnya dunia berubah ebook login · Samsung chromebook 2 covers · Naked lunch book download. Peter hurley the headshot ebook · Saatnya dunia berubah ebook · Communicating effectively hybels weaver ebook · 26 clear meadows ct hartford · Maos last. bowlcacklopwi Download Ebook Saatnya Dunia Berubah archiver uebersetzer natur wordpad ruterladen bowlcacklopwi Biology Of Plants .

The Spectator Project: Montclair State Universitys project features full-text,

Se h in gga kami hams mencari jalan ke luar untuk mendapatkan obat Oseltamivir dari India yang memiliki lisensi dari Roche. Masih lumayan ada sedikit sumbangan dari Thailand dan Australia yang memiliki sedikit persediaan. Kejadian diborongnya obat Tamiflu oleh negaranegara kaya yang tak memiliki kasus Flu Burung, sungguh sangat menggoreskan luka mendalam pada hati 3 Saatnya Dunia Berubah saya; alangkah tidak adilnya.

Bayangkan saja Flu Burung menimpa negara-negara yang sedang berkembang bahkan miskin, tetapi mereka tidak diprioritaskan dalam pengadaan obat-obatan yang masih terbatas produksinya di dunia. Terbersit dalam benak saya, andaikan nanti ditemukan vaksin Flu Burung pada manusia, pasti negara kaya yang memiliki uang banyak akan menjadi prioritas utama. Seperti diketahui bahwa bahan untuk membuat vaksin atau virusnya diperoleh dari negara penderita Flu Burung yang tidak kaya, yang belum tentu mampu membeli vaksin yang dibuat oleh negara kaya.

Maka akan terwujudlah suatu fenomena di mana negara yang menderita akan semakin sengsara, negara kaya akan semakin kaya karena mampu memproduksi vaksin dan menguasainya di dunia.

Bila keadaan seperti ini diteruskan alangkah berbahayanya. Karena kesenjangan antara negara kaya dan miskin akan semakin melebar, dan kesejahteraan di dunia semakin sima.

Kedamaian di dunia sesungguhnya hanya bisa tercapai bila ada keseimbangan, kebutuhan dan ketergantungan dari si kay a dan si miskin.

Jangan dikira dengan semakin memiskinkan sebagian dari umat manusia di dunia ini akan dapat mensejahterakan umat manusia yang tidak miskin. Waktu terus berjalan, bergulir begitu cepat. Korban Flu Burung semakin banyak berjatuhan. Sementara tak ada satu pun referensi ten tang bagaimana cara mengatasi kasus-kasus tersebut. Tanpa terasa jumlah kasus di Indonesia semakin melampaui negara-negara penderita sebelumnya.

Apakah virulensi virus strain Indonesia lebih ganas dari strain mereka? Tetapi hal in i saya jawab sendiri dalam hati; tidak! Satu hallagi yang unik, yaitu jumlah kasus klaster di Indonesia tertinggi di dunia. Apakah karena ke padatan penduduk dan kepadatan unggas yang tinggi dan berada di suatu area dan waktu yang sama? Banyak sckali pertanyaan yang muncul. Siang dan malam, dari detik ke menit, dan dari menit ke menit berikutnya, merenggut seluruh denyut jiwa dan raga saya dalam gelombang ketidak-pastian.

Dalam hati saya berbicara: " Ya ALLAH, tuntunlah saya mengarungi samudra hencana ini, selamatkanlah rakyat di negeri ini". Tingginya jumlah kasus klaster di Indonesia membuat para spekulan ilmiah menuding bahwa penularan antar rnanusia segera akan terjadi di Indonesia. Kekhawatiran 5 Saatnya Dunia Berubah para ilmuwan bertambah memuncak manakala terjadi kematian berturut-turut sejumlah tujuh orang pada satu keluarga di Tanah Karo, Sumatera Utara. Posko penyelamatan segera didirikan di sana. Penduduk yang menderita sakit dengan gejala panas, batuk pilek segera kita bawa ke rumah sakit untuk diobservasi diamati.

Langkah ini dibantu oleh ternan dari Australia dan dilakukan oleh seluruh dokter puskesmas yang ada di sana. Langkah ini membuahkan hasil yang luar biasa karena kasus tidak bertambah lagi. Namun toh sempat menimbulkan polemik di koran. Karena salah satu penduduk yang dinyatakan suspek Flu Burung dan diobservasi di rumah sakit untuk penyelamatan, ternyata terbukti tidak menderita Flu Burung tentu saja setelah semua pemeriksaan selesai sesuai dengan aturan yang berlaku.

Dari beberapa pengalaman yang terbatas walaupun paling banyak jumlahnya di dunia, saya menangkap suatu tanda bahwa kebanyakan kasus di Indonesia datang tedambat.

Dari ketidak-tahuan si pasien yang mengira hanya menderita batuk pilek biasa sampai ketidak-tahuan si dokter yang pertama kali memeriksa pasien tersebut karena gejala klinisnya memang tidak ada bedanya dengan sakit Flu biasa. Pasti sudah dijalankan dengan seksama, di tv, di surat kabar, di spanduk dan di mana mana, tapi toh masih ada saja yang terlambat terdiagnosis. Padahal kalau pasien datang sebelum hari ketiga, maka besar harapan akan dapat ditolong.

Bagaimana saya harus mendiagnosis kasus sccara cepat? Kalau dengan cara yang baku saja saya membutuhkan lebih dari dua hari untuk mendapatkan hasilnya, apalagi bila sampel spesimen.

Kadang-kadang lima sa mpai tujuh hari baru saya peroleh hasilnya. Diamdiam saya cermati hasil pemeriksaan laboratorium di Litbangkes, Departemen Kesehatan dan say a bandingkan lengan hasil pemeriksaan di Hong Kong ternyata tidak berbeda. Kenapa harus dikirim ke Hong Kong? Ah, saya ik uti saja aturan ini, pasti WHO punya maksud yang "baik" untuk kepentingan umat manusia di dunia.

Di dalam kegalauan menguntai harapan, saya harus mampu mendiagnosis pasien secepat mungkin agar saya bisa menolongnya lebih baik. Karena penderita yang datang lebih cepat ternyata lebih terselamatkan. Seiring dengan kegalauan tersebut berdatanganlah para pedagang farmasi menawarkan suatu rapid diagnostic test yang tentu saja berdasarkan sumbernya dari virus strain Vietnam.

Padahal antibodi H5 tersebut akan mulai dapat dilacak setelah 3 hari menderita infeksi Flu Burung. Wah bukankah setelah hari ketiga, penderita sudah sangat parah sehingga harapan hidupnya kecil, sudah t idak perlu lagi menggunakan rapid diagnostic test. Dalam hati, saya mengatakan bahwa kelak saya harus mampu membuat early and rapid diagnostic test sendiri yang sesuai dengan kebutuhan kita, yaitu strain Indonesia.

Dan metodenya adalah harus bisa 7 Saatnya Dunia Berubah mendeteksi antigen, agar saya bisa mendiagnosis pasien pada saat hari pertama dan kedua. Pedagang-pedagang tersebut juga menawarkan vaksin. Tentu saja sumbernya juga dari virus yang kebetulan adalah virus strain Vietnam. Manakala mereka gencar menawarkan, pada benak saya terbayang seorang warga Vietnam yang mati karena Flu Burung ditangisi anak istri, sanak saudara serta tetangganya.

Dari seed virus inilah kemudian digunakan untuk membuat vaksin. N amun ironisnya pembuat vaksin adalah perusahaan yang ada di negara-negara industri, negara maju, negara kaya yang tidak mempunyai kasus Flu Burung pada manusia. Dan kemudian vaksin itu dijual ke seluruh dunia juga akan dijual ke negara kita.

You might also like: ANCORON BULA EBOOK DOWNLOAD

Tetapi tanpa sepengetahuan apalagi kompensasi untuk si pengirim virus, yaitu saudara kita yang ada di Vietnam. Mengapa begini? Jiwa kedaulatan saya terusik. Seolah saya melihat ke belakang, ada bayang-bayang penjajah dengan semena-mena merampas padi yang menguning, karena kita hanya bisa menumbuk padi menggunakan lesung, sedangkan sang penjajah punya mesin sleyp padi yang modern.

Seolah saya melihat penjajah menyedot minyak bumi di Tanah Air kita seenaknya, karena kita tidak menguasai teknologi dan tidak memiliki uang untuk mengolahnya. Inikah yang disebut neo-kolonialisme yang diramal oleh Bung Karno 50 tahun yang lalu?

Ketidak-berdayaan suatu bangsa menjadi sumber keuntungan bangsa yang lain? Saya tidak mengerti siapa yang mendirikan C ISN yang sangat berkuasa tersebut. Mengapa saya mengatakan ada ketidak-adilan? Sc menjak 50 tahun lalu, negara di dunia yang me mpunyai kasus Influenza biasa seasonal Flu harus mengirimkan spesimen virus secara sukarela, tanpa ada yang protes.

Dan kemudian diproses untuk risk assesment dan riset para pakar. Disamping itu juga diproses menjadi seed virus. Dan dari seed virus dapat dibuat suatu vaksin, di mana setelah menjadi vaksin, didistribusikan ke seluruh Negara di dunia secara ko mersial! Tentu dengan harga yang sangat rnahal tanpa rnernpedulikan alasan sosial kecuali alasan ekonorni, sernata.

Sungguh nyata, suatu ciri khas kapitalistik. Hal ini sudah terjadi selarna puluhan tahun. Ditengarai dengan beredarnya seasonal flu vaccine di dunia yaitu vaksin untuk Influenza biasa. Saya orang Jawa yang selalu rnerasa "beruntung" dalarn keadaan apapun juga, dalarn hal ini rnasih rnerasa untung juga bahwa kita tidak sangat butuh seasonal flu vaccine.

Karena kalau kita rnenderita Influenza biasa, sangat rnudah rnengatasinya. Yaitu cukup dengan obat obatan sirnptornatis seperti Bodrex, Panadol dsb bahkan hanya dengan "kerokan". Tetapi di negara-negara rnaju, penyakit Influenza sangat rnernbahayakan karena kornplikasi Pneumonia-nya sering rnernbawa kernatian. Maka rnereka sangat rnernbutuhkan seasonal flu vaccine dalarn jurnlah yang besar sepanjang rnasa. Mengenai seasonal flu vaccine saya hanya bisa rnenggurnarn kesal. Kenapa kok tidak ada yang prates.

Padahal tidak seorang pun tahu virus dari rnanakah yang digunakan untuk rnernbuat vaksin dan kernudian rnereka jual? Konon kabarnya virus dari Indonesia dan Malaysia. Entahlah benar apa tidak. Pokoknya kalau anda butuh ya harus rnernbeli dengan harga rnahal. Bagi saya hal seperti ini sangat aneh dan tidak rnasuk akal. Siapakah yang rnernperdagangkan virus Seasonal Flu? Tetapi rnengapa kernudian tiba tiba perusahaan pernbuat virus rnernproduksinya? Dirnana rnulai diperdagangkan?

Bagaimana dengan virus H5N1 yang sedang melanda du nia terutama di negara yang sedang herkemhang lengan angka kematian yang sangat tinggi, yang me mhuat dunia panik untuk mengatasinya secepat'Cpatnya. Negara-negara yang mengalami outbreak Flu Burung pada manusia "harus" menyerahkan virus H5Nl ke WHO CC, dan hanya "disuruh" menunggu konfirmasi diagnosis dari virus yang dikirim tersehut.

Tetapi setelah i t u negara pengirim tidak pernah tahu. Diapakankah virus tersehut, dikirim kemanakah virus tersehut, dan :1pakah akan dihuat vaksin atau hahkan jangan-jangan :1kan diproses menjadi senjata hiologi?

Kepada siapa saya harus hertanya? Apa hak dari si pengirim virus yang hiasanya adalah negara yang sedang herkemhang dan negara miskin. Alangkah ironisnya. Diapakankah virus itu kemudian? Tahu tahu sudah heredar di dunia sehagai vaksin yang diperjual-helikan dengan harga yang tidak terjangkau hagi negara yang sedang he rkemhang. Sementara rakyat Vietnam meninggal karena Flu Burung, di depan mata pedagang herkulit putih dari Eropa menawarkan vaksin dengan Vietnam strain.

Alangkah tidak adilnya dunia ini! Ironisnya lagi, kalau t idak mampu memheli ya hanya hisa menerima nasib saJa. Sungguh sangat kejam hila penderitaan um:1 1l Saatnya Dunia Berubah manusia diperdagangkan oleh manusia lainnya tanpa tatakrama. Bahkan melibatkan suatu organisasi global yang yang seharusnya bertugas mensejahterakan umat manusia di dunia. Terasa perih luka di hati ini tergores ada ketidak adilan yang kedua dalam kurun waktu semenjak hadirnya Flu Burung di Indonesia.

Tanpa saya sadari melelehlah air mata menelusuri pipi dan menetes di meja Menteri Kesehatan RI yang membentang di depan saya. Betapa tidak bergunanya saya ada di sini bila saya biarkan ketidak adilan ini mengoyak hak manusia untuk hidup bersama di dunia.

Inikah yang disebut oleh Bung Karno sebagai neo-kolonialisme? Ataukah exploitation de l'home par l'home? Ataukah neo-kapitalisme? Ataukah imperialisme? Apakah saya harus diamkan saja hal ini berlalu begitu saja? Ataukah saya harus berbuat sesuatu untuk melawannya? Tapi siapakah saya? Ya, ALLAH, bukankah saya hanya seorang Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dari negara yang tidak pernah berani melawan kemapanan di dunia meskipun penuh ketidak-adilan, kecuali pada jaman Bung Karno dulu?

Musty smell removal bookstore

Kita merdeka tapi tidak berdaulat, kita berdaulat tapi tidak merdeka. Bukankah kita harus merdeka sekaligus berdaulat agar kita menjadi bangsa yang besar; yaitu bangsa yang bermartabat atau hanya akan menjadi bangsa yang kerdil. Tuhan, Kau berikan virus Flu Burung kepada bangsa ini, sekaligus membuka mata hati kami untuk membangkitkan kesadaran berbangsa yang bermartabat dan berdaulat, saya yakin harus berbuat sesuatu untuk umat manusia.

Sudah dua ketidak-adilan yang saya catat dalam hati. Yakni ketidak-adilan WHO dalam mengatur pendistribusian obat-obatan pada keadaan outbreak, dan sharing virus yang sangat tidak adil. Namun masih ada 12 Luka di Hati Menyulut Nurani s;ttu lagi ketidak-adilan yang tidak kalah menyakitkan hati. Seperti yang saya kemukakan sebelumnya, yakni :H.. Ia nya kasus klaster yang terbesar di dunia, di Tanah I aro, dengan kematian tujuh dari delapan orang hc rsaudara yang menderita Flu Burung.

Para pakar la ri WHO yang hampir semuanya epidemiolog lnc nyimpulkan bahwa klaster yang terjadi di Tanah Ka ro adalah suatu kejadian penularan antar manusia hu man to human transmission.

Account Options

Kesimpulan yang 1ncnurut saya, sangat sembrono, sangat gegabah. Tetapi WHO Indonesia dengan arogannya meyakinkan semua wa rtawan dalam maupun luar negeri bahwa sudah tcrjadi penularan antar manusia di Indonesia.

Siti Fadilah Supari Sp. JP K , membakar unggaslfltgr;as korban Flu Burung 13 Saatnya Dunia Berubah organisasi global di bidang kesehatan mengambil kesimpulan segegabah itu. Segera saya menghubungi ternan saya Profesor Sangkot Marzuki, seorang ilmuwan molecular biologist yang cukup dikenal di dunia, dan saat itu menjadi pimpinan lembaga Eijkman, dengan harapan akan menolong saya untuk membuat sequencing DNA virus Flu Burung dari Tanah Karo. Dan saya mendapat jawaban yang melegakan bahwa laboratorium Eijkman mampu mengerjakan sequencing DNA.

Maka dalam waktu yang singkat pemeriksaan sequencing spesimen virus H5N1 yang berasal dari Tanah Karo dilakukan. Sambil menunggu hasil sequencing DNA tersebut, dari detik ke menit, pikiran saya terfokus pada masalah ini.

Sebab betapa dahsyat akibatnya bila isu penularan langsung antar manusia di Indonesia menjadi suatu berita yang dipercaya. Negara kita akan menghadapi masalah besar, karena pasti akan diisolasi, tidak boleh ada sesuatu pun yang ke luar dari Indonesia dan juga tidak ada yang boleh masuk ke Indonesia. Detak ekonomi akan berhenti, apalagi bisnis pariwisata pasti akan tamat. Saya tidak bisa membayangkan, yang jelas saya harus berbuat sesuatu untuk menepis ataupun menolak pernyataan WHO tersebut.

Dengan rasa marah dan kesal tetapi saya tetap yakin bahwa saya ada di pihak yang benar.

Maka saya mulai bersuara. Pertama, say a tegur keras WH 0 Indonesia dalam menyimpulkan sesuatu yang belum tentu betul dan mempunyai konsekuensi yang berat bagi negara Indonesia. Seharusnya masalahnya didiskusikan lebih dahulu sebelum memberikan kesimpulan ke CNN. Permintaan saya ini adalah sangat relevan, karena orang seperti itu membahayakan negara kita. Protes berat saya tujukan kepada Dr.

Kemudian konperensi pers saya gelar. Ratusan wartawan dari dalam maupun luar negeri berduyunduyun datang. Saya nyatakan bahwa berita tentang penularan Flu Burung secara langsung dari manusia ke manusia di Tanah Karo adalah tidak benar. Karena bila benar; korban yang pertama adalah tenaga kesehatan yang merawat mereka.

Dan kematian di daerah korban akan sangat banyak bukan puluhan tapi mungkin ribuan. Yang paling penting untuk menyimpulkan penularan la ngsung dari manusia ke manusia tidak cukup hanya berdasarkan data epidemiologi seperti yang dilakukan oleh WHO.

Tetapi harus dikuatkan dengan data virologi yang merupakan bukti pasti. Dengan pernyataan saya itu, dunia mulai ragu.

Dunia mulai mempertanyakan. Telepon genggam saya rerpegang erat di tangan selama 24 jam, karena pasti akan datang pertanyaan dari mancanegara atau dari 15 Saatnya Dunia Berubah mana-mana. Ternyata betul. Mereka ingin mengkonfirmasikan berita tersebut. Telepon genggam saya sangat membantu meredam isu yang sangat berbahaya tersebut.

Wah, "untung" wartawan dalam negeri tidak begitu "tanggap" menangkap isu yang sensitif ini. Sehingga tidak sangat merepotkan saya dan staf saya yang memang sudah sangat repot.

Tidak ingat lagi hanya berapa jam saja tiap malam saya bisa tidur. Bahkan saya takut tidur karena takut kehilangan momentum perkembangan Flu Burung yang memang sangat menakutkan. Namun struktur lainnya masih sesuai dengan virus yang menular dari binatang ayam ke manusia. Tetapi tetap saja masyarakat internasional seperti tidak peduli. Seolah-olah kurang percaya dengan hasil sequencing yang dilakukan di Lembaga Eijkman, hanya karena lembaga tersebut belum pernah diakreditasi oleh WHO.

Saya heran mengapa WHO tidak mengumumkan temuannya ini? Mengapa scientist ilmuwan sedunia juga diam saja? Saya yakin kalau mereka mengumumkan data sequencing ini, CNN tidak berhak mengatakan adanya penularan langsung dari manusia ke manusia.

Barangkali hanya sekitar 15 grup peneliti, dimana 4 dari 15 ini berasal dari WHO CC, dan sisanya saya tidak tahu. Hal ini sangat mengagetkan saya. Di laboratorium inilah dirancang Born Atom untuk mengebom Hiroshima di tahun Tampaknya laboratorium ini ternpat riset dan pembuatan senjata kimia di USA.

Alangkah ngennya. Sehingga ilmuwaQ di luar itu tak bisa mengakses. Kapan akan dibuat vaksin dan kapan akan dibuat senjata kimia, barangkali tergantung dari keperluan dan kepentingan mereka saja.

Benar-benar sangat membahayakan nasib manusia sedunia. Beginilah kalau sistem tidak transparan dan tidak adil. Ini hanya salah satu konsekuensi logis dari suatu kekuasaan yang hampir tidak terbatas.

Saya berpikir keras bagaimana saya membebaskan 17 Saatnya Dunia Berubah ketertutupan informasi ilmiah ini. Sebab menurut saya sungguh-sungguh sangat berbahaya. Dalam pertemuan kemudian diputuskan untuk mentransparankan data sequencing DNA virus H5Nl untuk perkembangan ilmu pengetahuan agar tidak dimonopoli oleh sekelompok ilmuwan saja. Segera say a layangkan surat ke WH 0 agar say a dapat diberikan data sequencing virus yang dari Tanah Karo. Tampaknya surat saya mendapat sambutan baik, data sequencing virus Tanah Karo segera dikirimkan.

Dan pada tanggal 8 Agustus , sejarah dunia mencatat bahwa Indonesia mengawali ketransparanan data sequencing DNA virus H5N1 yang sedang melanda dunia. Tindakan ini sangat membahagiakan seluruh ilmuwan di dunia. Kita mendapatkan apresiasi yang sangat luar biasa. Karena keberanian kita menerobos ketertutupan menjadi keterbukaan. Bahkan salah satu apresiasi diungkapkan oleh majalah the Economist, London, Inggris, yang sangat kredibel di dunia, menyatakan bahwa Menteri Kesehatan Republik Indonesia memerangi Flu Burung bukan hanya dengan obat-obatan tetapi juga dengan ketransparansian Pandemics and Transparency, the Economist, August 10, Kabar terakhir lLl ri int,ernet, ternyata laboratorium Los Alamos telah ditutup alias tidak ada lagi, sejak saya menuntut data vi rus Tanah Karo.

Tetapi apa daya sc mua seed virus tersebut sudah terlanjur disimpan di Los Alamos yang telah ditutup tadi. Dari Indonesia saja ada 58 virus. Dari negara lain saya tidak tahu. Saya mendapat kabar bahwa begitu I ,os Alamos tutup, penyimpanan data sequencingllya dipindahkan ke 2 tempat. Artinya permainan masih diteruskan sampai saat ini, meskipun namanya dan keberadaannya berganti. Mudah-mudahan lebih aman. Memang negara adidaya benar-benar berkuasa dan bisa herbuat apa saja. Kita hanya bisa mengurangi ancaman kebinasaan bangsa-bangsa di dunia dengan bersuara, herusaha, dan membuka mata dunia.

Apa hubungannya? Apa lagi se karang di BHS? Tadinya saya heran. Tapi sekarang saya 19 Saatn.

Dan di WHO CC, virus diproses untuk dijadikan seed virus dan kemudian diberikan ke perusahaan vaksin untuk dibuat vaksin. Namun di lain pihak, kita juga tidak tahu apakah juga dijadikan senjata biologi.

Tampak sekali pintu ketidak-transparanan adalah GISN. Padahal, ketidak transparanan akan membahayakan umat manusia di dunia. Dipanggil Presiden Awalnya saya mengira hanya saya sendiri yang merasakan kegelisahan yang amat sangat pada saat menghadapi isu penularan Flu Burung antar manusia di Tanah Karo.

Namun perkiraan tersebut ternyata salah, setelah saya dipanggil oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau merasa sangat khawatir dengan beredarnya isu Flu Burung di Tanah Karo.

Beliau dengan wajah agak tegang meminta konfirmasi dari saya; tentang kebenaran berita CNN. Saya mengatakan bahwa berita itu tidak benar. Dan saya harus membetulkan isu tersebut. Saya katakan kepada beliau: Bapak berikan kesempatan terlebih dulu kepada saya untuk menyelesaikan permasalahan ini. Dalam hati saya mengatakan, saya untung telah menentukan langkahlangkah yang jelas dan tepat.

Siti Fadilah Supari, Sp. Dan masih untung lagi pusat-pusat pemberitaan internasional mempunyai akses langsung ke nomor te lepon genggam saya untuk konfirmasi berita. Sehingga hal ini sangat membantu mengerem isu yang tidak benar terse out.

Sesuatu yang membahagiakan saya adalah, pak SBY benar-benar seorang pemimpin yang mumpuni yang peka terhadap segala penderitaan yang terjadi di Negara ini. Beliau sangat mencemaskan dampaknya bila terjadi penularan Flu Burung antar manusia bagi Indonesia. Kata beliau, Indonesia bisa menjadi Negara yang terisolasi dari dunia karena semua Negara tidak akan mau berkunjung ke Indonesia.

Bukan hanya dunia parawisata dan ekonomi akan hancur tetapi kehidupan berbangsa kita akan menuju kepada situasi yang sangat engkhawatirkan dan sangat gawat.

Indonesia akan terjerumus ke dalam jurang krisis yang lebih dalam dan 21 Saatnya Dunia Berubah dahsyat, jauh lebih parah dari krisis yang pernah terjadi sebelumnya.

Saya masih ingat bagaimana saya harus meyakinkan beliau, bahwa isu penularan Flu Burung antar manusia di Tanah Karo adalah tidak benar. Dengan bahasa ilmiah saya mencoba menerangkan kepada beliau. Presiden DR. Susilo Bambang Yudhoyono memang seorang ilmuwan, sangat bisa mengerti dan tampaknya juga yakin karena saya melihat ketenangan kembali tiba di wajahnya yang tadinya terlihat mendung. Pada saat itu juga say a minta ijin kepada beliau, bahwa saya akan melakukan pembelaan dan membantah atas ketidak benaran berita yang bersumber dari berita media barat dan menyudutkan kita.

Juga tentang program kerja saya untuk menanggulangi virus Flu Burung termasuk kenekadan saya untuk melawan kezaliman kelompok Bangsa di dunia yang merasa menguasai dunia yang mengambil keuntungan dari penderitaan negara miskin. Presiden mengesankan memberikan dukungan penuh kepada saya, namun dibisikkan juga bahwa jangan terlalu banyak berharap, karena biasanya kita kalah.

Barangkali maksudnya untuk membesarkan hati saya agar saya tidak putus asa bila mengalami kegagalan dalam perjuangan nantinya.

Begitu pintu kantor kepresidenan saya lampaui tergetarlah nurani saya seperti mendapat dorongan sangat kuat untuk berbuat sesuatu. Namun, saya tidak berani menceritakan tentang misteri Los Alamos kepada Bapak Presiden. Karena saya kasihan kepada beliau yang sangat banyak memikirkan persoalan Bangsa ini yang masih sangat kompleks.

Saya tidak ingin semakin menambah persoalan yang sangat berat ini. Restunya pun sudah sangat membuat saya bahagia. Melihat kenyataan bahwa keadilan telah terkoyak ole h keserakahan.

Saya harus memeranginya. Setidak1idaknya saya harus mulai menguaknya, agar mata dunia 1crbuka untuk kemudian memperbaikinya.

Mekanisme yang sangat i1n perialistik ini harus dirubah menjadi mekanisme :mg adil dan transparan, sehingga negara penderita 1 ida k sangat dirugikan seperti saat ini. Apalagi dengan llH. Apakah :tda manusia di dunia ini yang ingin ada lagi peristiwa lli roshima bahkan lebih dahsyat lagi?

Mulai saat ini saya akan menegakkan diagnosis Flu Bu rung dengan melakukan pemeriksaan di laboratorium l. Meskipun WHO tidak mengakui, saya 1 idak peduli. Saya akan buktikan bahwa Indonesia :tdalah negara merdeka dan berdaulat yang tidak bisa did ikte begitu saja. Indonesia akan memimpin negara-negara yang sedang berkembang 23 Saatnya Dunia Berubah yang selama ini selalu menjadi korban kese. Semangat saya telah menyala pantang surut kembali. Bismillaahi rahmaanir rahiim!

Vaksin Strain Indonesia Saya telusuri kembali beberapa bulan setelah Flu Burung hadir di negara kita. Pada akhir tahun , saya kedatangan tamu dari perusahaan pembuat vaksin, Baxter International Inc.

Dan seperti juga para pedagang sebelumnya, Baxter juga mempromosikan kemampuannya membuat vaksin. Lagi la:gi menawarkan vaksin Flu Burung untuk manusia dengan Vietnam strain. Saya tahu persis dari pengetahuan maupun pengalaman, bahwa vaksin harus spesifik sesuai dengan virus penyebabnya. Tampilan klinis kasus di Indonesia dengan Vietnam berbeda dilihat dari angka kematiannya, tipe virusnya pun berbeda. Mengapa saya harus menggunakan vaksin yang dibuat dari virus Vietnam?

Pertanyaan saya mengagetkan mereka. Mengapa Minister bertanya demikian? Dan saya menjawab bahwa saya mempunyai asumsi yang sebenarnya lebih mendekati suatu hipotesis virus denganstrain Indonesia lebih virulen ganas dari pada yang lainnya. Dan kalau dibuat vaksin nantinya akan lebih cross protective dibanding dengan lainnya. Artinya vaksin dengan strain Indonesia bisa digunakan lebih luas dibandingkan dengan vaksin dari strain lainnya bayangkan bila saat itu perusahan vaksin di dunia hanya memproduksi vaksin yang berasal dari virus strain Vietnam.

Tidak ada kamus di benaknya bahwa :1kan ada vaksin dengan strain Indonesia. Staf rselon 1 saya tampak nyengir, seolah seperti menyetujui P:1 k Marzuki.

Dengan setengah berbisik saya katakan kc pada mereka, nanti saya terangkan kenapa saya hcrpendapat seperti ini. Tampaknya Tuhan berpihak kepada saya. Lima bulan kc mudian asumsi, ataupun hipotesis saya terbukti. Virus Indonesia mempunyai virulensi yang jauh lebih kuat di banding dengan virus lainnya. Hal ini diumumkan o. Dan Uniknya saya mendengar hal 1crsebut langsung dari berita yang disiarkan melalui :NN. Alhamdulillah, saya meyakini hipotesis tersebut, d imana pada saat itu tak seorang pun memikirkan ha hwa vaksin yang dibuat dari virus Vietnam akan hcrbeda dengan yang dibuat dari virus Indonesia.

Saya merasa bahagia. Bukan karena pujian dari Kim Bush. Bayangkan seluruh dunia dinya hanya mengenal satu jenis vaksin Flu Burung 25 Saatnya Dunia Berubah untuk manusia yaitu yang berasal dari strain Vietnam.

Tiba-tiba dengan pendapat saya yang terlontar pada saat bertemu derigan Baxter, mata dunia menjadi terbelalak. Ternyata ada vaksin Flu Burung untuk manusia yang lebih baik kekuatannya yaitu yang berasal dari strain Indonesia. Leavitt memesan 20 juta dosis vaksin dengan strain Indonesia kepada Baxter. Apa lagi yang kita peroleh?

Ya, bargaining power yang lebih kuat. Terimakasih Tuhan. Di tengah-tengah penderitaan yang menyakitkan, KAU sempatkan menyentuhku dengan senyumMu yang memberikan secercah harapan. Dengan dibuktikannya virus Indonesia mempunyai cross protective yang sangat bagus. Maka negosiasi kita dengan Baxter bertambah lancar. Bagaimana kita memproduksi dengan harga murah, kemudian alih teknologi, dengan downstream technology terlebih dahulu.

Kerjasama antara pemerintah Indonesia dalam hal ini Departemen Kesehatan RI dengan perusahaan Baxter berdasarkan prinsip kesetaraan atau satu level, duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Kita sebagai negara yang berdaulat tidak perlu merasa lebih rendah walaupun kita tidak punya teknologi tinggi, dana yang minim maupun expert yang jumlahnya masih sangat terbatas. Menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan diri. Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lebih jauh, yang boleh jadi setiap saat bisa saja tiba tiba datang.

Dunia kedokteran dan virologi dipacu untuk bangkit lebih inovatif. Mencari temuan temuan baru berupa peralatan vaksin dan obat-obatan untuk menghadapi ancaman.

Beberapa kerjasama telah dibangun dalam upaya membuat rapid detection kit alat pemeriksa cepat , obat oseltamivir dan vaksin Flu Burung strain Indonesia. S ix Tidak hanya berhenti disitu. Dan yang sangat di luar dugaan banyak orang, ternyata WHO CC di luar sepengetahuan Indonesia -memberikan sampel virus Flu Burung strain Indonesia pada beberapa perusahaan di negara maju.

Kemudian mereka mengembangkannya menjadi vaksin. Dan dijual secara komersial dengan harga mahal kepada Negara miskin dan berkembang. Berbagai konspirasi negara-negara maju terhadap negara-negara miskin dan berkembang, satu persatu terbongkar. Selama 50 tahun, sistem pengorganisasian kesehatan dunia berlangsung sangat eksploitatif. Dikuasai oleh kehendak kehendak yang tidak manusiawi. Didasari ketamakan penumpukan kapital dan nafsu untuk menguasai dunia.

Dan hal ini telah membuka mata dan kesadaran negara-negara miskin dan berkembang lainnya untuk ikut menuntut perombakan sistem kesehatan dunia di bawah WHO, agar menjadi adil, transparan dan setara. Ini semua demi peradaban manusia! Untuk dunia yang lebih sehat dan lebih adil.

Semua negara sudah bersepakat. Tidak boleh lagi ada sistem yang membiarkan penumpukan modal dengan melalui cara cara perampasan virus dari negara miskin korban suatu penyakit oleh negara maju, yang kemudiari menjual vaksinnya pada negara negara berkembang dan miskin. Dunia tahu. Bahwa ini, bukanlah persoalan kalah atau menang di meja diplomasi. Perjuangan melawan Flu Burung adalah perjuangan menegakkan kemanusiaan yang sejati.

Sebab taruhannya adalah setiap nyawa bisa X melayang hila terjadi pandemi dan akan melenyapkan umat manusia akibat kerakusan dan salah urus sistem kesehatan dunia. Korban yang hampir mencapai seratus orang Indonesia hingga di ujung tahun ini, tidaklah sia sia. Mereka mati syahid -sebagai martir untuk sistem kesehatan dunia yang lebih baik.

Penderitaan ratusan anggota keluarga korban yang ditinggalkan, menjadi penggerak bagi bangsa ini untuk kembali bangkit sejajar dengan bangsa-bangsa lain ke luar dari penindasan dan penjajahan. Untuk itu, sebuah sistem baru di bidang kesehatan d unia sedang disusun. Departemen Kesehatan Republik fndonesia berada terdepan bersama sama Negara Negara sahabat dan siap melakukan t;mggung jawabnya. Di cakrawala, tiba tiba saya sadar.

Bahwa kasus Flu Burung adalah cermin bagi berbagai persoalan dunia, yang membawa kesengsaraan umat manusia sekaligus menunjukkan jalan keluarnya. Sudah saatnya dunia berubah!

Saatnya Bersuara! Beliau telah memberikan inspirasi bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang dalam mewujudkannya dalam kenyataan, harus menjadi tanggung-jawab semua anak bangsa". Dan Indonesia menang! Saya berharap Siti Fadilah Supari juga seberani dan setegar itu menghadapi kapitalis dalam negeri yang tega mengorbankan rakyat demi keuntungall pribadi". Disusul jeritan busung lapar melengking dari Nusa Tenggara Barat yang sebenarnya tanahnya cukup subur. Saat itu saya berada di Mataram dalam rangka kunjungan kerja mengatasi busung lapar di sana.

Berita di media massa sangat luar biasa seolah kelalaian pemerintah yang baru enam bulan saja dimulai. Pemberitaan yang tidak berimbang seperti ini adalah makanan sehari hari bagi seorang Menteri yang baru seperti saya. Tiba-tiba muncul berita di TV bahwa dua anak dan satu bapak menderita panas, sesak nafas dan kemudian meninggal sangat cepat, di RS Siloam Glennagles. Diagnosisnya belum tahu dan masih diteliti. Apakah SARS?

Apa Flu Burung? Atau penyakit baru apa ya? Saya harus segera kembali ke Jakarta. Karena berita seperti itu bisa berkembang liar kalau tidak segera dikendalikan. Rapat lengkap dengan para dokter yang merawat, para pakar dan pejabat terkait membicarakan kasus tersebut. Ternyata setelah beberapa hari diagnosis pun tertegakkan; bahwa penyakitnya adalah Flu Burung. Konferensi pers pertama yang saya lakukan adalah mengumumkan bahwa penyebab kematian kasus-kasus tersebut adalah infeksi Flu Burung yang belum pernah ada sebelumnya.

Indonesia gempar. Ternyata Flu Burung yang menerjang Vietnam tahun , kemudian menyusul Thailand dan Cina, pada tahun , telah memasuki Indonesia pula. Bahkan langsung memakan korban pasien bernama Iwan dan kedua puteranya. Sebagai Menteri Kesehatan, tentu saja pertamatama saya gemetar. Tetapi saya harus tetap tegar, harus fokus untuk keselamatan rakyat. Segala daya diupayakan untuk menanggulangi dan mencegahnya.

Media massa hiruk pikuk. Bukan membantu menyelesaikan masalah tetapi bahkan memecah konsentrasi dengan hujatan, kesinisan dan dengan ejekan yang tiada henti-hentinya.

Katanya dari unggas, tetapi konon si korban tidak bertemu unggas. Hal semacam ini menjadi santapan pers yang empuk. Pers tidak mengenal hipotesis. Tetapi untunglah dengan analogi kepada negara Vietnam dan T hailand, masyarakat akhirnya bisa mengerti bahwa perantara virus H5Nl adalah unggas. Tindakan utama adalah mencegah merebaknya infeksi Flu Burung pada unggas yang sulit teratasi.

Sedangkan tmtuk menghindari korban pada man usia, selain sosialisasi tentang penyakit Flu Burung, dan menjauhkan kontak antara manusia dan unggas di pemukiman serta cara hidup bersih dan sehat, pemerintah hams mempunyai stok obat Tamiflu n ama generiknya Oseltamivir yang diproduksi oleh Roche dalam jumlah tertentu sesuai dengan anjuran da ri WHO.

Bookbyte sell back reviews

Dengan susah payah pemerintah menganggarkan dana untuk pengadaan obat Tamiflu tersebut. Namun manakala dana sudah ada di tangan, ternyata kita tidak mendapatkan obat tersebut. Karena obat yang telah tersedia sudah habis dipesan oleh negara kaya sebagai stockpilling. Anehnya negara-negara yang telah memborong obat tersebut tidak mempunyai satu pun kasus Flu Burung di negara mereka.

Se h in gga kami hams mencari jalan ke luar untuk mendapatkan obat Oseltamivir dari India yang memiliki lisensi dari Roche. Masih lumayan ada sedikit sumbangan dari Thailand dan Australia yang memiliki sedikit persediaan. Kejadian diborongnya obat Tamiflu oleh negaranegara kaya yang tak memiliki kasus Flu Burung, sungguh sangat menggoreskan luka mendalam pada hati 3 Saatnya Dunia Berubah saya; alangkah tidak adilnya.

Bayangkan saja Flu Burung menimpa negara-negara yang sedang berkembang bahkan miskin, tetapi mereka tidak diprioritaskan dalam pengadaan obat-obatan yang masih terbatas produksinya di dunia.

Terbersit dalam benak saya, andaikan nanti ditemukan vaksin Flu Burung pada manusia, pasti negara kaya yang memiliki uang banyak akan menjadi prioritas utama. Seperti diketahui bahwa bahan untuk membuat vaksin atau virusnya diperoleh dari negara penderita Flu Burung yang tidak kaya, yang belum tentu mampu membeli vaksin yang dibuat oleh negara kaya.

Maka akan terwujudlah suatu fenomena di mana negara yang menderita akan semakin sengsara, negara kaya akan semakin kaya karena mampu memproduksi vaksin dan menguasainya di dunia. Bila keadaan seperti ini diteruskan alangkah berbahayanya. Karena kesenjangan antara negara kaya dan miskin akan semakin melebar, dan kesejahteraan di dunia semakin sima.

Kedamaian di dunia sesungguhnya hanya bisa tercapai bila ada keseimbangan, kebutuhan dan ketergantungan dari si kay a dan si miskin. Jangan dikira dengan semakin memiskinkan sebagian dari umat manusia di dunia ini akan dapat mensejahterakan umat manusia yang tidak miskin. Waktu terus berjalan, bergulir begitu cepat. Korban Flu Burung semakin banyak berjatuhan.

Sementara tak ada satu pun referensi ten tang bagaimana cara mengatasi kasus-kasus tersebut. Tanpa terasa jumlah kasus di Indonesia semakin melampaui negara-negara penderita sebelumnya. Apakah virulensi virus strain Indonesia lebih ganas dari strain mereka? Tetapi hal in i saya jawab sendiri dalam hati; tidak! Satu hallagi yang unik, yaitu jumlah kasus klaster di Indonesia tertinggi di dunia. Apakah karena ke padatan penduduk dan kepadatan unggas yang tinggi dan berada di suatu area dan waktu yang sama?

Banyak sckali pertanyaan yang muncul. Siang dan malam, dari detik ke menit, dan dari menit ke menit berikutnya, merenggut seluruh denyut jiwa dan raga saya dalam gelombang ketidak-pastian. Dalam hati saya berbicara: Tingginya jumlah kasus klaster di Indonesia membuat para spekulan ilmiah menuding bahwa penularan antar rnanusia segera akan terjadi di Indonesia. Kekhawatiran 5 Saatnya Dunia Berubah para ilmuwan bertambah memuncak manakala terjadi kematian berturut-turut sejumlah tujuh orang pada satu keluarga di Tanah Karo, Sumatera Utara.

Posko penyelamatan segera didirikan di sana. Penduduk yang menderita sakit dengan gejala panas, batuk pilek segera kita bawa ke rumah sakit untuk diobservasi diamati.

Langkah ini dibantu oleh ternan dari Australia dan dilakukan oleh seluruh dokter puskesmas yang ada di sana. Langkah ini membuahkan hasil yang luar biasa karena kasus tidak bertambah lagi. Namun toh sempat menimbulkan polemik di koran.

Karena salah satu penduduk yang dinyatakan suspek Flu Burung dan diobservasi di rumah sakit untuk penyelamatan, ternyata terbukti tidak menderita Flu Burung tentu saja setelah semua pemeriksaan selesai sesuai dengan aturan yang berlaku.

Dari beberapa pengalaman yang terbatas walaupun paling banyak jumlahnya di dunia, saya menangkap suatu tanda bahwa kebanyakan kasus di Indonesia datang tedambat.

Dari ketidak-tahuan si pasien yang mengira hanya menderita batuk pilek biasa sampai ketidak-tahuan si dokter yang pertama kali memeriksa pasien tersebut karena gejala klinisnya memang tidak ada bedanya dengan sakit Flu biasa.

Pasti sudah dijalankan dengan seksama, di tv, di surat kabar, di spanduk dan di mana mana, tapi toh masih ada saja yang terlambat terdiagnosis. Padahal kalau pasien datang sebelum hari ketiga, maka besar harapan akan dapat ditolong. Bagaimana saya harus mendiagnosis kasus sccara cepat? Kalau dengan cara yang baku saja saya membutuhkan lebih dari dua hari untuk mendapatkan hasilnya, apalagi bila sampel spesimen. Kadang-kadang lima sa mpai tujuh hari baru saya peroleh hasilnya. Diamdiam saya cermati hasil pemeriksaan laboratorium di Litbangkes, Departemen Kesehatan dan say a bandingkan lengan hasil pemeriksaan di Hong Kong ternyata tidak berbeda.

Kenapa harus dikirim ke Hong Kong? Ah, saya ik uti saja aturan ini, pasti WHO punya maksud yang "baik" untuk kepentingan umat manusia di dunia. Di dalam kegalauan menguntai harapan, saya harus mampu mendiagnosis pasien secepat mungkin agar saya bisa menolongnya lebih baik. Karena penderita yang datang lebih cepat ternyata lebih terselamatkan. Seiring dengan kegalauan tersebut berdatanganlah para pedagang farmasi menawarkan suatu rapid diagnostic test yang tentu saja berdasarkan sumbernya dari virus strain Vietnam.

Padahal antibodi H5 tersebut akan mulai dapat dilacak setelah 3 hari menderita infeksi Flu Burung. Wah bukankah setelah hari ketiga, penderita sudah sangat parah sehingga harapan hidupnya kecil, sudah t idak perlu lagi menggunakan rapid diagnostic test.

Dalam hati, saya mengatakan bahwa kelak saya harus mampu membuat early and rapid diagnostic test sendiri yang sesuai dengan kebutuhan kita, yaitu strain Indonesia. Dan metodenya adalah harus bisa 7 Saatnya Dunia Berubah mendeteksi antigen, agar saya bisa mendiagnosis pasien pada saat hari pertama dan kedua. Pedagang-pedagang tersebut juga menawarkan vaksin. Tentu saja sumbernya juga dari virus yang kebetulan adalah virus strain Vietnam. Manakala mereka gencar menawarkan, pada benak saya terbayang seorang warga Vietnam yang mati karena Flu Burung ditangisi anak istri, sanak saudara serta tetangganya.

Dari seed virus inilah kemudian digunakan untuk membuat vaksin. N amun ironisnya pembuat vaksin adalah perusahaan yang ada di negara-negara industri, negara maju, negara kaya yang tidak mempunyai kasus Flu Burung pada manusia. Dan kemudian vaksin itu dijual ke seluruh dunia juga akan dijual ke negara kita.

Tetapi tanpa sepengetahuan apalagi kompensasi untuk si pengirim virus, yaitu saudara kita yang ada di Vietnam. Mengapa begini? Jiwa kedaulatan saya terusik. Seolah saya melihat ke belakang, ada bayang-bayang penjajah dengan semena-mena merampas padi yang menguning, karena kita hanya bisa menumbuk padi menggunakan lesung, sedangkan sang penjajah punya mesin sleyp padi yang modern. Seolah saya melihat penjajah menyedot minyak bumi di Tanah Air kita seenaknya, karena kita tidak menguasai teknologi dan tidak memiliki uang untuk mengolahnya.

Inikah yang disebut neo-kolonialisme yang diramal oleh Bung Karno 50 tahun yang lalu? Ketidak-berdayaan suatu bangsa menjadi sumber keuntungan bangsa yang lain?

Saya tidak mengerti siapa yang mendirikan C ISN yang sangat berkuasa tersebut. Mengapa saya mengatakan ada ketidak-adilan? Sc menjak 50 tahun lalu, negara di dunia yang me mpunyai kasus Influenza biasa seasonal Flu harus mengirimkan spesimen virus secara sukarela, tanpa ada yang protes. Dan kemudian diproses untuk risk assesment dan riset para pakar. Disamping itu juga diproses menjadi seed virus. Dan dari seed virus dapat dibuat suatu vaksin, di mana setelah menjadi vaksin, didistribusikan ke seluruh Negara di dunia secara ko mersial!

Tentu dengan harga yang sangat rnahal tanpa rnernpedulikan alasan sosial kecuali alasan ekonorni, sernata. Sungguh nyata, suatu ciri khas kapitalistik. Hal ini sudah terjadi selarna puluhan tahun. Ditengarai dengan beredarnya seasonal flu vaccine di dunia yaitu vaksin untuk Influenza biasa.

Saya orang Jawa yang selalu rnerasa "beruntung" dalarn keadaan apapun juga, dalarn hal ini rnasih rnerasa untung juga bahwa kita tidak sangat butuh seasonal flu vaccine. Karena kalau kita rnenderita Influenza biasa, sangat rnudah rnengatasinya. Yaitu cukup dengan obat obatan sirnptornatis seperti Bodrex, Panadol dsb bahkan hanya dengan "kerokan". Tetapi di negara-negara rnaju, penyakit Influenza sangat rnernbahayakan karena kornplikasi Pneumonia-nya sering rnernbawa kernatian.

Maka rnereka sangat rnernbutuhkan seasonal flu vaccine dalarn jurnlah yang besar sepanjang rnasa. Mengenai seasonal flu vaccine saya hanya bisa rnenggurnarn kesal. Kenapa kok tidak ada yang prates.

Padahal tidak seorang pun tahu virus dari rnanakah yang digunakan untuk rnernbuat vaksin dan kernudian rnereka jual? Konon kabarnya virus dari Indonesia dan Malaysia.

Entahlah benar apa tidak. Pokoknya kalau anda butuh ya harus rnernbeli dengan harga rnahal. Bagi saya hal seperti ini sangat aneh dan tidak rnasuk akal. Siapakah yang rnernperdagangkan virus Seasonal Flu? Tetapi rnengapa kernudian tiba tiba perusahaan pernbuat virus rnernproduksinya?

Dirnana rnulai diperdagangkan? Bagaimana dengan virus H5N1 yang sedang melanda du nia terutama di negara yang sedang herkemhang lengan angka kematian yang sangat tinggi, yang me mhuat dunia panik untuk mengatasinya secepat'Cpatnya. Negara-negara yang mengalami outbreak Flu Burung pada manusia "harus" menyerahkan virus H5Nl ke WHO CC, dan hanya "disuruh" menunggu konfirmasi diagnosis dari virus yang dikirim tersehut. Tetapi setelah i t u negara pengirim tidak pernah tahu.

Diapakankah virus tersehut, dikirim kemanakah virus tersehut, dan: Kepada siapa saya harus hertanya? Apa hak dari si pengirim virus yang hiasanya adalah negara yang sedang herkemhang dan negara miskin.

Alangkah ironisnya. Diapakankah virus itu kemudian? Tahu tahu sudah heredar di dunia sehagai vaksin yang diperjual-helikan dengan harga yang tidak terjangkau hagi negara yang sedang he rkemhang.

Sementara rakyat Vietnam meninggal karena Flu Burung, di depan mata pedagang herkulit putih dari Eropa menawarkan vaksin dengan Vietnam strain. Alangkah tidak adilnya dunia ini! Ironisnya lagi, kalau t idak mampu memheli ya hanya hisa menerima nasib saJa. Sungguh sangat kejam hila penderitaan um: Bahkan melibatkan suatu organisasi global yang yang seharusnya bertugas mensejahterakan umat manusia di dunia.

Terasa perih luka di hati ini tergores ada ketidak adilan yang kedua dalam kurun waktu semenjak hadirnya Flu Burung di Indonesia.

Tanpa saya sadari melelehlah air mata menelusuri pipi dan menetes di meja Menteri Kesehatan RI yang membentang di depan saya. Betapa tidak bergunanya saya ada di sini bila saya biarkan ketidak adilan ini mengoyak hak manusia untuk hidup bersama di dunia. Inikah yang disebut oleh Bung Karno sebagai neo-kolonialisme? Ataukah exploitation de l'home par l'home? Ataukah neo-kapitalisme? Ataukah imperialisme? Apakah saya harus diamkan saja hal ini berlalu begitu saja? Ataukah saya harus berbuat sesuatu untuk melawannya?

Tapi siapakah saya? Ya, ALLAH, bukankah saya hanya seorang Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dari negara yang tidak pernah berani melawan kemapanan di dunia meskipun penuh ketidak-adilan, kecuali pada jaman Bung Karno dulu?

Kita merdeka tapi tidak berdaulat, kita berdaulat tapi tidak merdeka. Bukankah kita harus merdeka sekaligus berdaulat agar kita menjadi bangsa yang besar; yaitu bangsa yang bermartabat atau hanya akan menjadi bangsa yang kerdil. Tuhan, Kau berikan virus Flu Burung kepada bangsa ini, sekaligus membuka mata hati kami untuk membangkitkan kesadaran berbangsa yang bermartabat dan berdaulat, saya yakin harus berbuat sesuatu untuk umat manusia.

Sudah dua ketidak-adilan yang saya catat dalam hati. Yakni ketidak-adilan WHO dalam mengatur pendistribusian obat-obatan pada keadaan outbreak, dan sharing virus yang sangat tidak adil. Namun masih ada 12 Luka di Hati Menyulut Nurani s;ttu lagi ketidak-adilan yang tidak kalah menyakitkan hati.

Seperti yang saya kemukakan sebelumnya, yakni: Ia nya kasus klaster yang terbesar di dunia, di Tanah I aro, dengan kematian tujuh dari delapan orang hc rsaudara yang menderita Flu Burung. Para pakar la ri WHO yang hampir semuanya epidemiolog lnc nyimpulkan bahwa klaster yang terjadi di Tanah Ka ro adalah suatu kejadian penularan antar manusia hu man to human transmission.

Kesimpulan yang 1ncnurut saya, sangat sembrono, sangat gegabah. Tetapi WHO Indonesia dengan arogannya meyakinkan semua wa rtawan dalam maupun luar negeri bahwa sudah tcrjadi penularan antar manusia di Indonesia. Bahkan C NN dengan headline news menyiarkan ke seluruh du nia bahwa telah mulai terjadi penularan Flu Burung: Siti Fadilah Supari Sp. JP K , membakar unggaslfltgr;as korban Flu Burung 13 Saatnya Dunia Berubah organisasi global di bidang kesehatan mengambil kesimpulan segegabah itu.

Segera saya menghubungi ternan saya Profesor Sangkot Marzuki, seorang ilmuwan molecular biologist yang cukup dikenal di dunia, dan saat itu menjadi pimpinan lembaga Eijkman, dengan harapan akan menolong saya untuk membuat sequencing DNA virus Flu Burung dari Tanah Karo.

Dan saya mendapat jawaban yang melegakan bahwa laboratorium Eijkman mampu mengerjakan sequencing DNA. Maka dalam waktu yang singkat pemeriksaan sequencing spesimen virus H5N1 yang berasal dari Tanah Karo dilakukan. Sambil menunggu hasil sequencing DNA tersebut, dari detik ke menit, pikiran saya terfokus pada masalah ini.

Sebab betapa dahsyat akibatnya bila isu penularan langsung antar manusia di Indonesia menjadi suatu berita yang dipercaya. Negara kita akan menghadapi masalah besar, karena pasti akan diisolasi, tidak boleh ada sesuatu pun yang ke luar dari Indonesia dan juga tidak ada yang boleh masuk ke Indonesia.

Detak ekonomi akan berhenti, apalagi bisnis pariwisata pasti akan tamat. Saya tidak bisa membayangkan, yang jelas saya harus berbuat sesuatu untuk menepis ataupun menolak pernyataan WHO tersebut. Dengan rasa marah dan kesal tetapi saya tetap yakin bahwa saya ada di pihak yang benar.

Maka saya mulai bersuara. Pertama, say a tegur keras WH 0 Indonesia dalam menyimpulkan sesuatu yang belum tentu betul dan mempunyai konsekuensi yang berat bagi negara Indonesia. Seharusnya masalahnya didiskusikan lebih dahulu sebelum memberikan kesimpulan ke CNN. Permintaan saya ini adalah sangat relevan, karena orang seperti itu membahayakan negara kita. Protes berat saya tujukan kepada Dr.

Kemudian konperensi pers saya gelar. Ratusan wartawan dari dalam maupun luar negeri berduyunduyun datang. Saya nyatakan bahwa berita tentang penularan Flu Burung secara langsung dari manusia ke manusia di Tanah Karo adalah tidak benar. Karena bila benar; korban yang pertama adalah tenaga kesehatan yang merawat mereka. Dan kematian di daerah korban akan sangat banyak bukan puluhan tapi mungkin ribuan.

Yang paling penting untuk menyimpulkan penularan la ngsung dari manusia ke manusia tidak cukup hanya berdasarkan data epidemiologi seperti yang dilakukan oleh WHO.

Tetapi harus dikuatkan dengan data virologi yang merupakan bukti pasti. Dengan pernyataan saya itu, dunia mulai ragu. Dunia mulai mempertanyakan.

Telepon genggam saya rerpegang erat di tangan selama 24 jam, karena pasti akan datang pertanyaan dari mancanegara atau dari 15 Saatnya Dunia Berubah mana-mana. Ternyata betul. Mereka ingin mengkonfirmasikan berita tersebut. Telepon genggam saya sangat membantu meredam isu yang sangat berbahaya tersebut.

Wah, "untung" wartawan dalam negeri tidak begitu "tanggap" menangkap isu yang sensitif ini. Sehingga tidak sangat merepotkan saya dan staf saya yang memang sudah sangat repot. Tidak ingat lagi hanya berapa jam saja tiap malam saya bisa tidur. Bahkan saya takut tidur karena takut kehilangan momentum perkembangan Flu Burung yang memang sangat menakutkan. Namun struktur lainnya masih sesuai dengan virus yang menular dari binatang ayam ke manusia.

Tetapi tetap saja masyarakat internasional seperti tidak peduli. Seolah-olah kurang percaya dengan hasil sequencing yang dilakukan di Lembaga Eijkman, hanya karena lembaga tersebut belum pernah diakreditasi oleh WHO. Saya heran mengapa WHO tidak mengumumkan temuannya ini? Mengapa scientist ilmuwan sedunia juga diam saja? Saya yakin kalau mereka mengumumkan data sequencing ini, CNN tidak berhak mengatakan adanya penularan langsung dari manusia ke manusia.

Barangkali hanya sekitar 15 grup peneliti, dimana 4 dari 15 ini berasal dari WHO CC, dan sisanya saya tidak tahu. Hal ini sangat mengagetkan saya. Di laboratorium inilah dirancang Born Atom untuk mengebom Hiroshima di tahun Tampaknya laboratorium ini ternpat riset dan pembuatan senjata kimia di USA.

Alangkah ngennya. Sehingga ilmuwaQ di luar itu tak bisa mengakses. Kapan akan dibuat vaksin dan kapan akan dibuat senjata kimia, barangkali tergantung dari keperluan dan kepentingan mereka saja. Benar-benar sangat membahayakan nasib manusia sedunia. Beginilah kalau sistem tidak transparan dan tidak adil. Ini hanya salah satu konsekuensi logis dari suatu kekuasaan yang hampir tidak terbatas. Saya berpikir keras bagaimana saya membebaskan 17 Saatnya Dunia Berubah ketertutupan informasi ilmiah ini.

Sebab menurut saya sungguh-sungguh sangat berbahaya. Dalam pertemuan kemudian diputuskan untuk mentransparankan data sequencing DNA virus H5Nl untuk perkembangan ilmu pengetahuan agar tidak dimonopoli oleh sekelompok ilmuwan saja. Segera say a layangkan surat ke WH 0 agar say a dapat diberikan data sequencing virus yang dari Tanah Karo. Tampaknya surat saya mendapat sambutan baik, data sequencing virus Tanah Karo segera dikirimkan.

Dan pada tanggal 8 Agustus , sejarah dunia mencatat bahwa Indonesia mengawali ketransparanan data sequencing DNA virus H5N1 yang sedang melanda dunia. Tindakan ini sangat membahagiakan seluruh ilmuwan di dunia. Kita mendapatkan apresiasi yang sangat luar biasa.

Karena keberanian kita menerobos ketertutupan menjadi keterbukaan. Bahkan salah satu apresiasi diungkapkan oleh majalah the Economist, London, Inggris, yang sangat kredibel di dunia, menyatakan bahwa Menteri Kesehatan Republik Indonesia memerangi Flu Burung bukan hanya dengan obat-obatan tetapi juga dengan ketransparansian Pandemics and Transparency, the Economist, August 10, Kabar terakhir lLl ri int,ernet, ternyata laboratorium Los Alamos telah ditutup alias tidak ada lagi, sejak saya menuntut data vi rus Tanah Karo.

Tetapi apa daya sc mua seed virus tersebut sudah terlanjur disimpan di Los Alamos yang telah ditutup tadi. Dari Indonesia saja ada 58 virus. Dari negara lain saya tidak tahu.

Best android songbook app

Saya mendapat kabar bahwa begitu I ,os Alamos tutup, penyimpanan data sequencingllya dipindahkan ke 2 tempat. Artinya permainan masih diteruskan sampai saat ini, meskipun namanya dan keberadaannya berganti. Mudah-mudahan lebih aman. Memang negara adidaya benar-benar berkuasa dan bisa herbuat apa saja. Kita hanya bisa mengurangi ancaman kebinasaan bangsa-bangsa di dunia dengan bersuara, herusaha, dan membuka mata dunia.

Apa hubungannya? Apa lagi se karang di BHS? Tadinya saya heran. Tapi sekarang saya 19 Saatn. Keinungkinannya skenarionya seperti ini: Dan di WHO CC, virus diproses untuk dijadikan seed virus dan kemudian diberikan ke perusahaan vaksin untuk dibuat vaksin.

Namun di lain pihak, kita juga tidak tahu apakah juga dijadikan senjata biologi. Tampak sekali pintu ketidak-transparanan adalah GISN. Padahal, ketidak transparanan akan membahayakan umat manusia di dunia. Dipanggil Presiden Awalnya saya mengira hanya saya sendiri yang merasakan kegelisahan yang amat sangat pada saat menghadapi isu penularan Flu Burung antar manusia di Tanah Karo.

Namun perkiraan tersebut ternyata salah, setelah saya dipanggil oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau merasa sangat khawatir dengan beredarnya isu Flu Burung di Tanah Karo. Beliau dengan wajah agak tegang meminta konfirmasi dari saya; tentang kebenaran berita CNN. Saya mengatakan bahwa berita itu tidak benar. Dan saya harus membetulkan isu tersebut. Saya katakan kepada beliau: Bapak berikan kesempatan terlebih dulu kepada saya untuk menyelesaikan permasalahan ini. Dalam hati saya mengatakan, saya untung telah menentukan langkahlangkah yang jelas dan tepat.

Dan masih untung lagi pusat-pusat pemberitaan internasional mempunyai akses langsung ke nomor te lepon genggam saya untuk konfirmasi berita. Sehingga hal ini sangat membantu mengerem isu yang tidak benar terse out.

Sesuatu yang membahagiakan saya adalah, pak SBY benar-benar seorang pemimpin yang mumpuni yang peka terhadap segala penderitaan yang terjadi di Negara ini. Beliau sangat mencemaskan dampaknya bila terjadi penularan Flu Burung antar manusia bagi Indonesia.

Kata beliau, Indonesia bisa menjadi Negara yang terisolasi dari dunia karena semua Negara tidak akan mau berkunjung ke Indonesia. Bukan hanya dunia parawisata dan ekonomi akan hancur tetapi kehidupan berbangsa kita akan menuju kepada situasi yang sangat engkhawatirkan dan sangat gawat. Indonesia akan terjerumus ke dalam jurang krisis yang lebih dalam dan 21 Saatnya Dunia Berubah dahsyat, jauh lebih parah dari krisis yang pernah terjadi sebelumnya.

Saya masih ingat bagaimana saya harus meyakinkan beliau, bahwa isu penularan Flu Burung antar manusia di Tanah Karo adalah tidak benar. Dengan bahasa ilmiah saya mencoba menerangkan kepada beliau. Presiden DR. Susilo Bambang Yudhoyono memang seorang ilmuwan, sangat bisa mengerti dan tampaknya juga yakin karena saya melihat ketenangan kembali tiba di wajahnya yang tadinya terlihat mendung.

Pada saat itu juga say a minta ijin kepada beliau, bahwa saya akan melakukan pembelaan dan membantah atas ketidak benaran berita yang bersumber dari berita media barat dan menyudutkan kita. Juga tentang program kerja saya untuk menanggulangi virus Flu Burung termasuk kenekadan saya untuk melawan kezaliman kelompok Bangsa di dunia yang merasa menguasai dunia yang mengambil keuntungan dari penderitaan negara miskin. Presiden mengesankan memberikan dukungan penuh kepada saya, namun dibisikkan juga bahwa jangan terlalu banyak berharap, karena biasanya kita kalah.

Barangkali maksudnya untuk membesarkan hati saya agar saya tidak putus asa bila mengalami kegagalan dalam perjuangan nantinya. Begitu pintu kantor kepresidenan saya lampaui tergetarlah nurani saya seperti mendapat dorongan sangat kuat untuk berbuat sesuatu. Namun, saya tidak berani menceritakan tentang misteri Los Alamos kepada Bapak Presiden.

Karena saya kasihan kepada beliau yang sangat banyak memikirkan persoalan Bangsa ini yang masih sangat kompleks. Saya tidak ingin semakin menambah persoalan yang sangat berat ini.

Restunya pun sudah sangat membuat saya bahagia. Melihat kenyataan bahwa keadilan telah terkoyak ole h keserakahan. Saya harus memeranginya. Setidak1idaknya saya harus mulai menguaknya, agar mata dunia 1crbuka untuk kemudian memperbaikinya.

Mekanisme yang sangat i1n perialistik ini harus dirubah menjadi mekanisme: Apalagi dengan llH.: Mulai saat ini saya akan menegakkan diagnosis Flu Bu rung dengan melakukan pemeriksaan di laboratorium l. Meskipun WHO tidak mengakui, saya 1 idak peduli. Saya akan buktikan bahwa Indonesia: Indonesia akan memimpin negara-negara yang sedang berkembang 23 Saatnya Dunia Berubah yang selama ini selalu menjadi korban kese.

Semangat saya telah menyala pantang surut kembali. Bismillaahi rahmaanir rahiim! Vaksin Strain Indonesia Saya telusuri kembali beberapa bulan setelah Flu Burung hadir di negara kita. Pada akhir tahun , saya kedatangan tamu dari perusahaan pembuat vaksin, Baxter International Inc. Dan seperti juga para pedagang sebelumnya, Baxter juga mempromosikan kemampuannya membuat vaksin.

Lagi la: Saya tahu persis dari pengetahuan maupun pengalaman, bahwa vaksin harus spesifik sesuai dengan virus penyebabnya. Tampilan klinis kasus di Indonesia dengan Vietnam berbeda dilihat dari angka kematiannya, tipe virusnya pun berbeda. Mengapa saya harus menggunakan vaksin yang dibuat dari virus Vietnam? Pertanyaan saya mengagetkan mereka.

Mengapa Minister bertanya demikian? Dan saya menjawab bahwa saya mempunyai asumsi yang sebenarnya lebih mendekati suatu hipotesis virus denganstrain Indonesia lebih virulen ganas dari pada yang lainnya.

Dan kalau dibuat vaksin nantinya akan lebih cross protective dibanding dengan lainnya. Artinya vaksin dengan strain Indonesia bisa digunakan lebih luas dibandingkan dengan vaksin dari strain lainnya bayangkan bila saat itu perusahan vaksin di dunia hanya memproduksi vaksin yang berasal dari virus strain Vietnam.

Tidak ada kamus di benaknya bahwa: Sejenak saya s: Staf rselon 1 saya tampak nyengir, seolah seperti menyetujui P: Dengan setengah berbisik saya katakan kc pada mereka, nanti saya terangkan kenapa saya hcrpendapat seperti ini. Tampaknya Tuhan berpihak kepada saya. Lima bulan kc mudian asumsi, ataupun hipotesis saya terbukti. Virus Indonesia mempunyai virulensi yang jauh lebih kuat di banding dengan virus lainnya.

Hal ini diumumkan o. Dan Uniknya saya mendengar hal 1crsebut langsung dari berita yang disiarkan melalui:Triple Zero Star Wars: Namun, saya tidak berani menceritakan tentang misteri Los Alamos kepada Bapak Presiden. Saya berharap Siti Fadilah Supari juga seberani dan setegar itu menghadapi kapitalis dalam negeri yang tega mengorbankan rakyat demi keuntungall pribadi". Apakah saya akan mendapat bantuan dari Condy? Mengapa kita dipaksa harus menyerahkan vir us, dengan aturan sepihak yang tidak adil?

Situasi seperti ini akan jauh lebih buruk akibatnya dari pada kejadian pandemik Flu Burung itu sendiri. Tetapi tcrnyata tidak begitu signifikan manfaatnya.

LEONA from Riverside
I do enjoy overconfidently. See my other posts. One of my hobbies is australian rules football.
>